Mereka Panggil Saya Tai Lincung

Sebuah pertemanan tidak lengkap jika tidak saling memberi nama panggilan. Itulah yang terjadi pada saya, mengenal dunia baru membuat saya mengenal berbagai kata unik sebagai panggilan, salah satunya adalah tai lincung (selanjutnya ditulis te'lincung). Anehnya kata-kata itu digunakan untuk memanggil saya, dan saya hanya merasa santai dan tidak masalah dengan penyematan kata itu (bodoh memang). Entah darimana dan mengapa kata itu bisa dipatenkan untuk saya. Memang terdengar kurang sopan dan tidak beretika jika mendengar kata te'lincung itu namun seiring perjalanan pendewasaan pemikiran, saya mengubah kata itu di otak saya menjadi The Leant Young. Sedikit memaksa memang tapi saya berusaha mengartikannya sebagai hal yang positif yaitu Sandaran Muda, dan itu berarti saya adalah calon-calon pilar baru yang akan jadi sandaran setiap orang. Dan memang saya harapkan demikian dapat menjadi pengubah dan pemikir baru untuk keadaan yang lebih baik demi banyak orang yang memberi saya kepercayaan dan juga untuk mereka yang berpandangan miring.

Seperti yang sudah saya katakan saya tidak keberatan mereka memanggil saya seperti itu karena saya selalu berusaha mengubah mindset saya dari melihat satu sisi menjadi ribuan sisi, dimana selalu ada hal baik didalam hal jelek. Seperti halnya bermain rubiks yang kini sedang saya  geluti, saya berusaha melihat dan memutarnya tidak dengan sudut dan putaran yang sama, karena jika tidak begitu maka setiap warna tidak akan mencapai kesempurnaan. Rubiks adalah cerminan kehidupan kita saya rasa karena banyak hal-hal kecil sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan melihat masalah itu dari sisi yang berbeda, begitu pula yang terjadi ketika bermain rubiks, terlalu banyak kotak dan warna yang berbeda yang harus disatukan dengan cara melihat setiap kotak kecil dan setiap warna, bukan satu warna dan tertitik pada satu pusat. Sama seperti kata te'lincung yang sudah pasti dianggap hal yang tidak pantas saya terima sebagai panggilan saya maka saya berusaha untuk mengubahnya dan lebih menekankan kata baru yang lebih sempurna itu sebagai maksud dari mereka memanggil saya yaitu The Leant Young (-sandaran muda-), karena saya percaya dari semua panggilan, hinaan, makian, sahutan, dan kejadian apapun itu semua ada makna yang lebih baik dan tidak 100% memiliki makna jelek. Bagaimana kita mendapatkan makna baik itu, ? ya dengan cara kita memutar otak dan melihat dari ribuan sisi yang tersembunyi dan menyatukannya menjadi lebih baik, melakukan terobosan baru dan membuat ubahan yang lebih diterima otak kita sebelum kita langsung berpandangan jelek.
Menurut saya orang yang berpandangan miring setiap kali hal jelek terjadi di depan mata mereka adalah orang-orang yang belum menseting otak mereka untuk melihat dan menentukan pendapat dari sisi yang berbeda. Secara alamiah pendapat selalu muncul dari pandangan pertama memang tidak dapat disanggah tapi secara pemikiran, pendapat harusnya dicerna dan dikaji dengan berbagai pilihan yang rumit dan berbeda seperti proses menyamakan tiap sisi rubiks dengan menyatukan warnanya. Saya yakin ketika saya mengenal dunia yang berbeda lainnya (dunia nyata sebagai kuli tinta) nanti saya akan mempunyai pemikiran yang semakin mantap seperti setiap orang yang dengan mantapnya mengatakan tomat sebagai buah bukan sayur, dan kacang tanah sebagai buah bukan umbi, dan memiliki pemikiran yang rumit seperti setiap orang yang dengan rumitnya menentukan ayam atau telur yang lebih dahulu.


regrads,

The Leant Young (te'lincung)
Selengkapnya...

Peran Pembantu : Kesempatan Untuk Membanggakan

Hidup adalah sebuah kesempatan, namun banyak orang yang mengisi hidupnya dengan mengutamakan persepsi mereka sehingga kesempatan besar pun jadi tidak terlihat ketika mereka dihadapkan dengan intervensi persepi yang sudah mendarah daging. Kesempatan untuk membuat perubahan menjadi kecil, dan hanya memenuhi hidupnya dengan segala persepsi negatif dan pandangan miring tanpa ingin membantu.

Manusia diciptakan berkoloni dan hal itu mewajibakan mereka untuk mengagungkan koloni mereka, agar lebih menonjol dan tidak kalah saing dengan koloni lain. Tapi banyak hal yang melunturkan sikap mengagungkan itu salah satunya persepsi yang memang tidak dapat di lepaskan dari pandangan, pikiran, dan ucapan manusia. Memang akan terlihat munafik jika tangan melakukan apa yang mulut katakan tidak baik. Tapi akan terlihat dewasa dan berjiwa pemenang jika tangan dapat melakukan hal yang terbaik bagi koloni walaupun mulut berkata tidak. Hidup untuk koloni lebih bermanfaat dibanding hidup untuk pemikiran entah apapun perannya baik sebagai aktor utama, sutradara, produser, kru, atau bahkan peran pembantu yang dapat memantapkan sebuah seting keadaan. Tidak akan ada pencahayaan yang bagus,dan sound yang menderu jika tidak ada penggulung kabel, peran kecil terbukti sangat berperan dalam hal ini.
Tidak semua koloni yang terbentuk langsung berada pada keadaan di atas angin, beberapa diantaranya sedang merangkak menapaki setiap level untuk mencapai posisi yang berdampak besar bagi setiap koloni lainnya. Dibutuhkan seorang pelopor untuk berada di bagian paling depan sebagai ujung tombak. Bagai angsa-angsa yang berpindah tempat, hanya ada satu angsa yang diposisikan paling depan dan yang lainnyaberada di sisi kanan dan kiri untuk menstabilkan keadaan agar dapat sampai pada titik pendaratan yang memberikan keuntungan untuk semua angsa. Peran kecillah yang ada pada posisi itu, untuk mengasah setiap ujung tombak, memberi semangat ketika pelopor jatuh, menjaga arah dan mendampingi sebelum sampai pada tujuan, dan yang pasti mendukung dengan semangat yang sama dengan yang dimiliki seorang pelopor.
Seorang pelopor lahir dari koloni yang sama dengan para peran pembantu, lahir untuk tujuan bersama, lahir untuk melayani peran pembantu, dan lahir demi keagungan koloni. Inilah yang membuat para pemeran pembantu harus mengenyampingkan setiap persepsinya untuk memenangkan sebuah kesempatan, mengambil kesempatan untuk dapat turut serta sebagai peran pembantu yang aktif untuk memberi kebanggaan. Bukan sebagai peran pembantu pasif yang hanya dapat menjadi penonton di depan panggung bukan pekerja di balik panggung. Namun ikut tertawa dan hanya menikmati saja dengan posisi duduk tanpa melakukan perpindahan dan pekerjaan kecil untuk membuktikan peran diri sesungguhnya.
Yang dibutuhkan oleh koloni adalah seorang pelopor dan para peran pembantu yang mau bersama-sama membuat kebanggaan, mengenyampingkan persepsi untuk kebanggaan dan keagungan koloni, bergerak aktif sebagai peran pembantu yang diperhitungkan, bukan peran pembantu yang duduk apatis dengan segala persepsinya seperti benalu yang hidup dari jerih payah tanaman lain.
Lalu dimana posisimu, seorang pelopor yang membutuhkan para peran pembantu solid,  peran pembantu yang ikut menyokong seorang pelopor demi kebanggan koloni, atau hanya sebagai peran pembantu yang hanya menikmati tanpa memberi ukiran tetesan keringat untuk kebanggaan.
Kesampingkan persepsi demi kepentingan, kekuatan, kebesaran, pengembangan, dan keagungan koloni (berama), ini kesempatan pembuktian bukan kesempatan untuk memkasa.

Selengkapnya...

Tugas Dasar KesLing FKM B/2008

Tugas Dengan Tema : "Permasalahan Kesehatan Lingkungan di Wilayah Anda"
Ketentuan Tugas       :

  1. Bentuk Paper, Berisi (BAB 1. Latar Belakang, BAB 2. Isi, BAB 3. Penutup).
  2. Daftar Pustaka Minimal 5 (bukan dari internet, boleh internet namun bukan dari situs tidak pasti ex: blog, melainkan situs dinas kesehatan atau instansi terkait)
  3. Dilampirkan Foto Kegiatan/Objek.
  4. Dikumpul saat kuis tanggal 6 November 2009 (komfirmasi ke kating -saya- supaya di data untuk dosen).
  5. (akan ada perbaikan kententuan -lupa bawa catatan-)
Selengkapnya...

Bukan Sekedar Tali Kur, Sepatu Pdh dan Seragam Bro..!

Saya (selalu) merasa iri ketika melihat beberapa teman dengan bangganya memajang dan memamerkan foto-foto mereka ketika mengenyam pendidikan di akademi atau intitusi yang ada di Indonesia yang menggunakan seragam resmi. Memang sama dengan saya yang mengenyam pendidikan formal namun bedanya adalah di seragam dan prospek mereka menuju ke masa depan. Siapa tidak iri dengan gagahnya seragam coklat itu dan juga masa depan yang pasti sudah di tangan mereka.


Tapi siapa sangka di sela-sela rasa iri saya ada juga sindiran bahkan pandangan miring untuk mereka (-terserah jika (dibilang) ini karena rasa iri saya yang berlebih). Namun kenyataan yang ada mereka di manjakan dan sekaligus di jatuhkan oleh rasa bangga itu. Mereka memang (dilatih) menggunakan konsep militer jadi (pasti salah) jika kita berkata mereka merasa nyaman-nyaman saja itu biasa. Tapi tidak biasa jika dikatakan kalau mereka tidak merasakan pendidikan yang membutuhkan keringat bukan karena push up, sit up, atau berlari. Banyak mahasiswa yang bahkan rela pontang-panting mencari pekerjaan sambilan untuk "kepuasan" perkulihannya. Sedangkan (beberapa dari) mereka dengan background yang mungkin (sedikit) di atas mahasiswa lain tidak perlu merasakan susahnya mencari uang dari kerja sambilan karena mereka (telah) dimanjakan negara untuk (seharusnya) menjaga nama baik negara. Mereka bangga dengan seragam coklatnya, dengan tali kur warna-warni, juga dengan sepatu Pdh mengkilat mereka tanpa bangga pada baju berkerah para mahasiswa dan sepatu sneekersnya.

Namun kenyataan yang ada siapa yang dapat menggulingkan tonggak Pemerintahan, siapa yang lebih sering mencoreng yang sudah mendidik dan membiayai, siapa yang hanya santai, siapa yang terlalu bangga, dan siapa yang (menjadi) sombong. Pertanyaan itu dapat di jawab dengan veris berbeda, namun saya bisa menjawab dengan penjelasan ringan. Ketika kebanggaan itu menjadi kesombongan maka iya atau tidak seseorang akan merasa paling atas dan hasilnya mereka lupa diri, lupa akan kepada siapa dia harus mengabdi, kepada siapa dia harus menghormati, kepada siapa dia harus tunduk. Semua imbuhan me- itu mereka tidak terima, mereka lebih senang menerima imbuhan di-, dihormati, dibanggakan, disukai, dibayar, dan (mungkin) dibunuh (atau membunuh). Dibunuh disini bukanlah dibunuh secara nyata namun dibunuh oleh kebanggaan mereka sendiri. Ketika mereka lupa bahwa bangasa yang membayar dan memndidik mereka sesungguhnya mengharapkan rasa hormat dan bukan coreng akibat ulah mereka serta para pendidik mereka disana. Bangsa dan masyarakat (pasti) akan bangga jika mereka ingat yang harus mereka lakukan adalah membanggakan nama bangsa dan negara yang telah mendidik mereka secara khusus bukan malah membanggakan nama sendiri.

Seharusnya mereka tidak mencari seragam, tali kur, dan sepatu Pdh atau bahkan gaji yang akan langsung di terima . Tetapi mereka harus mencari sikap yang pantas untuk diletakkan di posisi paling depan dalam kamus etika bersosialisasi mereka baik di dalam maupun di luar posisi mereka sebagai orang yang mencari ilmu. Mereka harus ingat mereka diinginkan rakyat untuk memberikan senyum bukan memberikan kebanggaan (yang berlebih). Kebanggan yang sesungguhnya akab di dapat jika orang luar bangga dengan etika kita, etika engkau sebagai anak didik (kami) para rakyat yang membayar kalian. Kemanjaan akan kebanggan berlebih kalian akan menjadi boomerang walau kalian tetap tidak tergoyah dipijakkan kalian sebagai orang yang akan menikmati hasil keringat mahasiswa tanpa seragam, kelak. Tapi kami yakin kami mahasiswa yang (hanya) menggunakan kemeja berkerah juga tidak dapat digoyahkan karena kami (sudah) layak jadi anak bangsa yang berbudi, berakal, beretika, dan tidak mencoreng (walau kami tidak dibayar) negara dengan ulah brutal (hewani) karena kebanggan pada diri sendiri. Kami pilar Indonesia bukan (hanya) penikmat Indonesia.
Selengkapnya...

Tugas K3 FKM

  1. Cari UU yang berhubungan dengan K3 bukan artikel K3 juga bukan pasal dari UU
  2. Buat Judul yang menjadi judul analisis juga merupakan dasar pemikiran untuk menganalisis
  3. Analisis dari UU yang dipilih ditulis tangan dan dibuat paper (bukan makalah)
  4. UU diprint dan di jilid Analisis di selipkan di dalamnya
  5. Analisis berisi : Permasalahan Pokok (yang menjadi dasar pemikiran dan disesuaikan isi UU yang dianalisis), Tujuan, Kesimpulan, dan Saran
  6. Judul tiap individu berbeda, juga diusahakan tiap individu berbeda pemilihan UU nya.
  7. Kirim judul dengan format : Nama: Judul analisis, UU yang akan di analisis ke. 085247699889
  8. Tugas dikumpul Setelah Hari Raya Idul Fitri

Judul yang saya terima
  • Isma : Analisis tentang realitas pelaksanaan K3 di Indonesia dari UU no. 23 tahun 1997
  • Saya : Analisis tentang perlindungan HAM bagi tenaga kerja di Indonesia dari UU no.13 tahun 2003 (judul dapat berubah)
  • Nur : Analisis tentang jaminan sosial bagi tenaga kerja di Indonesia dari UU no.1 tahun 1970
  • Lis : Analisis pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dari UU no.3 tahun 1992
  • Zainudin : Pembinaan Keselamatan dan kesehatan tenaga kerja di lingkungan tempat kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Novia : Analisis tentang perbaikan program keselamatan kerja dari UU no.14 tahun 1993
  • Fatimah aka Ima : Analisis tentang jaminan keselamatan tenaga kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Yuli Ambarwati : Analisis tentang tingkat pengawasan Pemerintah terhadap pelaksanaan K3 di Indonesia dari UU no.1 tahun 1970
  • Rena : Rena : Analisis tentang perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita di luar negeri dari UU no.39 tahun 2004
  • Riska : Analisis tentang syarat-syarat keselamatan kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Candra : Analisis tentang pelanggaran memperkerjakan anak-anak dari UU no.13 tahun 2003
  • Bayu : Analisis tentang ergonomi, Tunjangan Pelatihan dan Usia Produktif dari UU no. 13 tahun 2003
  • Heni : Analisis tentang pengaturan dan pengawasan K3 di bidang tambang dari UU no.19 tahun 1973
  • Annisa : Analisis tentang kesejahteraan Tenaga Kerja dari UU no.34 tahun 2004
  • Wini : Analisis tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak Gas Bumi dari UU no.44 tahun 1960
  • Siti : Analisis tentang manajemen K3 dari UU no. 23 tahun 1992
  • Ika : Analisis tentang belum terealisasinya pelaksanaan K3 dilingkungan kantor dari UU no. 23 tahun 1992
  • Jein : Analisis tentnag penerapan UU no.23 tahun 1997 di lingkungan kerja serta hubungannya terhadap masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungannya dari UU no.23 tahun 1997
  • Dewi : Analisis tentang keselamatan penyelenggaraan Penerbangan dari UU no.15 tahun 1992
  • Khairunnisa : Analisis tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja dari UU.14 tahun 1969
  • Vivi : -Judul Belum Ada- dari UU no.3 tahun 1992
Untuk yang lain harap tidak mengangkat UU no.1 tahun 1970, UU no.13 tahun 2003, UU no.34 tahun 2004
Selengkapnya...

Paradigma Sehat

Beberapa orang tahu bahwa sehat adalah suatu keadaan stabil baik dari segi fisik, mental, sosial-ekonomi, dan tentunya produktif. Namun tidak sedikit orang yang hanya tahu sehat itu adalah kondisi ketika tidak sakit, ini yang salah beberapa masyarakat Indonesia lebih memilih mencari sehat jika sakit sedangkan ketika sehat mereka tidak menjaganya. Poin terpenting dari menjaga kesehatan bukanlah ketika kita sakit kemudian berobat dan minum obat lalu sembuh namun ketika kita bisa hidup sehat, menjaga lingkungan, pola makan, dan mengatur aktifitas kita.

Kesehatan sebenarnya bukan dilihat saat kita dapat sembuh dari penyakit namun diliha dari saat kita dapat mempertahankan kondisi stabil kita. Kurang lebih ada 15% penduduk Indonesia yang sakit dan 85% lainnya dalam keadaan yang sehat namun pemerintah lebih memperhatikan ke-15% orang sakit ini. Sementara tidak ada pelayanan bagi 85% masyarakat Indonesia yang sehat. Pemerintah lebih memntingkan rumah sakit dibandingkan pusat kesehatan masyarakat yang merata bagi pelayanan dan penyuluhan kesehatan masyarakat.

Selain dari pemerintah, banyak masyarakat yang lebih senang untuk mengunjungi rumah sakit dibanding merawat diri di rumah, mendengarkan penyuluhan, dan memeriksakan diri secara rutin di puskesmas. Padahal jika dipikir untuk memasuki rumah sakit dan menikmati segala pelayanannya kita butuh biaya yang besar bahkan tidak sedikit ada unsur driskiminasi, sementara jika kita merwat diri dengan pola sehat yang teratur maka konsekuensi untuk mengeluarkan biaya mahal akan di mininalisir. Banyak yang beranggapan sehat adalah sembuh dari penyakit jadi jika sakit berobat ke dokter, minum obat, dan sembuh, dan setelah itu tidak ada hal lain yang menunjang kesehatan individu tersebut termasuk pencegahan agar tidak kembali terkena penyakit yang sama.

Cara pandang ini lah yang seharusnya dirubah, dari pada kita membuang-buang biaya yang besar untuk kesehatan di rumah sakit bukankah lebih baik jika kita mencegahnya di rumah masing-masing. Memeriksakan diri ke puskesmas terdekat dan yang pasti ikut menjadi kader kesehatan di lingkungan rumah.

Namun hal ini tidak serta merta terjadi begitu saja, jika tidak ada promosi kesehatan dari pemerintah dan hal ini tentu menjadi hal yang mustahil. Walau sering kita dengar mencegah lebih baik dari mengobati jika kurang promosi maka masyarakat juga tidak akan mengerti bagaimana pencegahan yang baik. Kita tidak akan pernah berjalan jika tidak diajarkan berjalan oleh orang tua kita, begitulah masyarakat tidak akan pernah mengerti pola hidup bersih dan sehat jika tidak pernah ada yang menginformasikannya. Maka alangkah lebih baik jika pemerintah memberdayakan puskesmas dan petugas kesehatan di beberapa wilayah yang kurang terjangkau, bukan malah membangun rumah sakit dan membuat wacana puskesmas 24 jam. Semua akan sia-sia jika aksesnya juga tidak ada contoh jika jauh dari pemukiman warga maka warga akan malas untuk datang secara rutin.

Hal yang paling penting adalah mengubah paradigma sehat itu sendiri. Bukan sembuh dari sakit namun mencegah penyakit dengan pola hidup yang benar. Dengan begitu masyarakat yang sehat akan dipertahankan dan akan bertambah seiring sembuhnya masyarakat yang sakit. Selamat Mencegah dan menikmati Promosi kesehatan yang seharusnya lebih baik dan lebih banyak dari saat ini.

Selengkapnya...

Ibu Pertiwi Menuntut

Sebuah titik terang muncul di tengah semua kejadian pengklaiman pihak Malaysia terhadap budaya Indonesia. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah kebudayaan, UNESCO, telah menyetujui batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan oleh Indonesia. Selain itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan sejak 2003 kebudayaan Indonesia telah diakui oleh UNESCO dengan diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan budaya tak benda dan keris sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Pemerintah terlihat lebih agresif kini dengan menominasikan angklung sebagai warisan budaya dari Indonesia. (ANTARA News~)

Berita ini memberikan rongga waktu beberapa menit bagi masyarakat Indonesia yang sedang tegang untuk merasa lega dan menang. Namun tidak demikian yang di harapkan Ibu Pertiwi, ketika warisan budayanya di klaim terus menerus oleh pihak luar secara tidak langsung Ibu Pertiwi menuntut jati diri anak-anak bangsanya yang sesungguhnya. Gugatan yang pertama di list tuntutan Ibu Pertiwi adalah pertanyaan siapa bangsa ini sebenarnya. Apakah bangsa yang besar tanpa jati diri karena telah teracuni budaya luar yang begitu menglobal dan mudah dijejaki setiap tapak langkahnya. Tidak terasa munafik jika kita menyebut bangsa ini adalah bangsa yang luas dan besar tanpa tangan yang panjang, dada yang lapang, dan tumit yang kokoh untuk merangkul setiap jengkal kebudayaan yang dimiliki. Setiap orang lebih mampu untuk merangkul kebudayaan luar yang sangat kecil dan sedikit.

Kini dengan langkah maju Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan dan kembali menarik setiap budaya dari genggaman bangsa lain, maka masyarakat kembali dituntut untuk terus melestarikan dan kembali membentuk jati diri bangsa besar yang sesungguhnya. Bukan jati diri tiruan dari bangsa asing yang jelas-jelas berbeda ras dengan Ibu Pertiwi kita, tetapi kita adalah bangsa yang besar yang penuh dengan keragaman budaya, adat, ekonomi-sosial, dan keragaman hayati serta ribuan pulau yang membentang luas sampai di titik tak terlihat garis pantai. Dan kini bangsa yang besar ini membutuhkan rangkulan yang lebih erat lagi dari anak-anaknya yang hidup dan mencari makan dari lumpurnya, debunya, airnya, udaranya, daun keringnya, anginnya, awannya, hutannya dan semua dari alamnya, dan itu akan terjadi jika setiap elemen bersatu dan bersama-sama bergandengan tangan untuk memeluk dan menjaga warisan Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi kini berharap tidak ada lagi bangsa yang mampu melukai lapisan epidermis para pejuang devisa, berharap tidak ada lagi celah untuk mengakui setiap warisannya, dan menginginkan anak-anaknya meruncingkan belati dan siap memanaskan ujung senapannya untuk membela tanah air dengan tumpahan darah sekali pun. Karena semua perbedaan yang dimiliki anak-anak bangsa adalah rantai dengan ikatan persamaan visi pembangunan dan perdamaian bangsa paling kuat yang akan sulit untuk dipisahakan seperti jemari burung Rajawali yang akan terus mengcengkram kebhinekaan Indonesia sampai pada titik ketika udara tidak lagi dapat dihirup, dan air tidak lagi mengalir.
Selengkapnya...

Pelanggan Kopi

| Literature | DigNow.net | Literature Blogs | Books & Literature Blogs - Blog Rankings | Top Literature blogs | Powered by  MyPagerank.Net | TopBlogues | | My BlogCatalog BlogRank | Kaltim Bloggers United |